AKU DAN WAJAH ITU
sejauh apapun aku berlari, sepertinya wajah itu tak pernah ada
sebab ingatanku bercabang dan melayang-layang
sama-sama terbang layaknya layang-layang
tali yang kupakai, tak pernah terulur
kalaupun mengendur, ia hanya mendesah
tak lama kemudian ia pasrah
sepasrah keringatku yang menderas ke tanah
aku dan wajah itu seperti bimbang
menimbang-nimbang sebuah harapan di depan mata
tapi semuanya tak pernah ada, sama persis dengan wajah itu
yang kembali menghilang sekedip mata
ketika pelarianku terhenti oleh suara yang menyapa
di perempatan sebuah gang
aku dan wajah itu tak pernah lagi ada
Membisu atas ketidakadilan lebih pengecut daripada meneriakkan kebenaran tanpa memperjuangkannya (Baequni Mohammad Haririe)
Kamis, 29 Januari 2009
Sabtu, 20 Desember 2008
ada yang tertinggal pada punggung anak muda itu
sesuatu yang mahaberat, sehingga ia harus menguras keringat
menjadikannya intan-intan yang sekarat
sama dengan gontai tubuhnya
meliuk-liuk di tengah jalan yang ramai
oleh sorak-sorai demonstran
mengacungkan keadilan di tengah kepalan
nurani dan harga diri yang hampir mati
kini, ia harus seorang diri
berteriak di ujung belantara
sembari menenteng sejarah
tentang perjuangan suci
yang hendak ia lakoni
mahasuci...mahakuat...mahakaya
mengikutinya atau mengawasinya?
sesuatu yang mahaberat, sehingga ia harus menguras keringat
menjadikannya intan-intan yang sekarat
sama dengan gontai tubuhnya
meliuk-liuk di tengah jalan yang ramai
oleh sorak-sorai demonstran
mengacungkan keadilan di tengah kepalan
nurani dan harga diri yang hampir mati
kini, ia harus seorang diri
berteriak di ujung belantara
sembari menenteng sejarah
tentang perjuangan suci
yang hendak ia lakoni
mahasuci...mahakuat...mahakaya
mengikutinya atau mengawasinya?
Langganan:
Postingan (Atom)